Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Guna Mendefinisikan Kembali 'Apa itu Sekaten' Pihak Keraton Yogyakarta Meniadakan Pasar Malam

Guna Mendefinisikan Kembali ‘Apa itu Sekaten’, Keraton Yogyakarta Meniadakan Pasar Malam di Tahun 2019


Diunggah oleh Utroq Trieha pada tanggal 4 Oktober 2019   61

Tatkala tinggal ataupun berkunjung di Kasultanan Ngayogyakarta pun Kasunanan Surakarta, setiap tahunnya ada yang telah digelar sejak dahulu dan susah untuk dilupakan. Ialah Sekatenan, yang merupakan peringatan berjuluk Sekaten.

Lalu Apa itu Sekaten? Pertanyaan itulah yang kemudian di tahun 2019 ini hendak didefinisikan kembali oleh Keraton Yogyakarta seiring dengan peringatannya.

Dapat diketahui bahwa Sekaten merupakan hal yang dipercaya telah berlangsung sejak masa pemerintahan Kerajaan Demak, yaitu pada awal abad XVI. Kemudian Sekaten ini secara terus-menerus dilestarikan oleh Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa Tengah yang di era awal ada Pajang dan Mataram. Selanjutnya hal itu terus berlangsung, baik ketika pusat kerajaan berada di Kerta, Pleret, Kartasura, hingga saat ini berlokasi di Surakarta  pun Yogyakarta.

Definisi Apa Itu Sekaten Berdasar Perjalanan Sejarah

Guna Mendefinisikan Kembali 'Apa itu Sekaten' Pihak Keraton Yogyakarta Meniadakan Pasar MalamKembali ke definisi ‘Apa itu Sekaten’. Bahwa sebagian orang ada yang memaknai Sekaten berasal dari kata ‘syahadatain’ yang berarti dua kalimat syahadat. Namun ada pula sebagian yang mengaitkan Sekaten ini dengan gamelan yang diberi nama Kyai Sekati. Konon, pada masa Kerajaan Demak, para Wali menggunakan momentum kelahiran Nabi Muhammad yang jatuh pada Bulan Mulud -penanggalan Tahun Jawa- untuk berdakwah dengan pertama- tama membunyikan Gamelan Sekati tersebut.

Mendengar suara gamelan Kyai Sekati yang sangat keras pada suasana sunyi senyap masa silam, maka tak sedikit masyarakat yang pada akhirnya menjadi tertarik dan kemudian berkumpul, yang selanjutnya mendengarkan dakwah dari para Wali dalam menyebarkan agama Islam.

Menyimak definisi ‘apa itu sekaten’ yang selalu diselenggarakan pada Bulan Mulud pada penanggalan Tahun Jawa (Sultan Agungan) tersebut, tak pelak banyak orang juga menyebutnya dengan nama peringatan ‘Muludan‘.

Di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, gelaran Sekaten itu sendiri dimulai dengan prosesi Miyos Gangsa, yaitu keluarnya Gamelan Sekati Kanjeng Kiai (KK) Gunturmadu dan Kanjeng Kiai (KK) Nagawilaga dari dalam Keraton Yogyakarta menuju area Pagongan Masjid Gedhe, tepatnya pada tanggal 6 Mulud Tahun Jawa. Selanjutnya pada dini hari tanggal 12 Mulud, Gamelan Sekati tersebut bakal dikembalikan ke dalam keraton melalui prosesi Kondur Gangsa.

Selama tak berda di dalam Keraton, melainkan telah berada di Pagongan Masjid Gedhe, yaitu antara tanggal 6 hingga 12 Mulud, maka kedua Gamelan yang berjuluk “KK Gunturmadu” dan “KK Nagawilaga” bakal secara terus-menerus ditabuh secara bergantian, dengan waktu mulai sejak pagi-hari hingga tengah malam. Rentang waktu ketika gamelan ditabuh dan dibunyikan itulah yang disebut dengan berlangsungnya tradisi Sekaten.

Sebagaimana kalimat-kuotasi di atas itulah sesungguhnya definisi ‘apa itu sekaten’ yang pada tahun 2019 ini hendak dikuatkan kembali maknanya oleh Kraton Yogyakarta.

Baca juga:  29 Kontingen Memeriahkan Pawai Pembukaan FKY-30 Mesemeleh

Gelaran Sekaten di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat Tahun 2019

Grebeg MuludanSehubungan dengan helatan Sekaten yang dilangsungkan Keraton Yogyakarta, ikhwal Upacara Miyos Gangsa pada tahun 2019 bakal dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 3 November 2019, tepatnya pukul 23.00 WIB. Sedangkan Kondur Gangsa akan dilakukan pada hari Sabtu, tanggal 9 November 2019 pukul 23.00 WIB juga.

Sebagai informasi pula, bahwa sesaat sebelum dimulainya prosesi Kondur Gangsa, Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat juga bakal ‘miyos’ ke halaman Masjid Gedhe guna menyebar udhik-udhik yang terdiri dari beras, biji-bijian, dan uang logam di tiga tempat. Yaitu dimulai dari Pagongan Kidul, Pagongan Lor, dan di dalam Masjid Gedhe itu sendiri. Peristiwa ini merupakan momen yang mempertemukan raja dengan rakyat secara langsung.

Keesokan hari usai digelarnya Kondur Gangsa, maka acara bakal dilanjutkan dengan gelaran Garebeg Mulud. Yaitu tepatnya pada hari Minggu tanggal 10 November 2019, dimulai pada pukul 07:00 WIB, di mana seluruh rangkaian kegiatan ini dapat disaksikan oleh publik secara gratis.

Baca juga:  Jogja Street Sculpture Project 2019 Memantik Garis Imajiner Yogyakarta Sebagai Tema 'Pasir Bawono Wukir'

Rangkaian tradisi lain selama gelaran Sekaten adalah pembacaan Riwayat Nabi Muhammad SAW dengan lokasi berada di Serambi Masjid Gedhe. Acara ini bakal dihadiri oleh Sri Sultan yang bakal mengenakan simping atau rangkaian bunga di telinga, sebagai simbul-makna bahwa raja akan mendengarkan keluhan serta aspirasi dari rakyatnya.

Peniadaan Pasar Malam Sebagai Salah Satu Langkah Mengembalikan Definisi Apa itu Sekaten

Luhurnya tradisi beserta makna yang terkandung dalam setiap rangkaian acara yang telah berlangsung selama ratusan tahun ini akan lebih ditonjolkan melalui pengelolaan acara Sekaten tahun ini yang pada khususnya digelar oleh pihak Keraton. Karena itu, demi mengembalikan makna dan definisi ‘apa itu Sekaten;, pihak Keraton bakal meniadakan agenda Pasar Malam yang biasanya digelar di area Alun-alun Utara dan dipegang langsung oleh Pemerintah Kotamadya Yogyakarta.

Sebagaimana dipaparkan pihak Keraton Yogyakarta pada jumpa-pers di Baleraos 3 Oktober 2019, peniadaan Pasar Malam Sekatenan ini selain sebagai langkah pengembalian makna dari pertanyaan ‘Apa itu Sekaten?’, adalah juga menjadi evaluasi kepada semua pihak, bahwa selama ini penyelenggaraannya selalu menyisakan banyak kekurangan. Baik dari sampah yang tak terkelola dengan baik, pun dengan beberapa kerusakan yang terjadi, serta ketidaktertiban para pengelolanya, termasuk para pengelola parkir yang adakalanya memberikan harga semena-mena.

Hal tersebut sebagaimana dipaparkan Gusti Bendara, “Pasar Malam untuk tahun 2019 ini kami ameniadakannya, namun untuk lebih jelas, agar clear, bisa juga ditanyakan langsung hal tersebut ke pihak Pemkot Yogyakarta. Karena selama ini yang memegang Pasar Malam adalah pihak Pemkot.”

Selanjutnya masih perihal peniadaan pasar malam tersebut, apabila memang telah ada perubahan dan tekad pada pengelolaan yang lebih baik, bisa saja tahun depan Pasar Malam akan dikembalikan kehadirannya. Namun sebaliknya, ketika belum siap, bukan tidak mungkin akan kembali ditiadakan.

Baca juga:  Helatan Batik Music Festival Sebagai Bentuk Sinergi BUMN; BRI dengan BRIZZI, GIA dengan GIAcoustic

Press Conference Pameran Sekaten 2019Dalam jumpa pers tersebut Gusti Noto (KGPH Notonegoro) juga menyampaikan bahwa itikad Keraton tahun ini lebih pada mengembalikan makna Sekaten. Karena justru banyak orang telah lupa darinya, sebab lebih memperhatikan perihal keramaian Pasar Malam dan hal-hal lain yang memang turut memeriahkannya.

“Seperti yang telah diketahui bersama, bahwa Sekaten ini sejatinya telah digelar jauh hari dan berabad lampau. Yaitu bahkan sejak zaman Kerajaan Demak. Karenanya, saat ini kita tak boleh lupa akan maknanya, dan malah lebih menekankan euforia. Ini yang hendak kita gaungkan mulai tahun 2019 ini,” tutur Gusti Noto.

Lebih dari itu, pada helatan Sekaten tahun 2019 ini lebih menghendaki untuk mengangkat kembali tema yang berhubungan dengan Raja Yogyakarta pertama. Maka, diusunglah tema “Sri Sultan Hamengku Buwono I : Menghadang Gelombang, Menantang Zaman”.

Berkaitan dengan tema yang diusung tersebut, meskipun Pasar Malam ditiadakan, namun pihak Keraton bakal menggelar pameran yang itu dipersembahkan bagi umum. Artinya, secara umum, publik akan bisa menyaksikan sekaligus menikmati beberapa jejak-peninggalan dari Sri Sultan Hamengku Buwono I, yang bisa jadi banyak yang masih awam tentangnya.

Kesadaran dari semua pihak dibutuhkan dalam memaknai helatan besar dan telah berlangsung sejak berabad lampau di bumi Mataram berjuluk SEKATEN ini.  Karenanya, sejarah pun sudah selayaknya tak lagi bisa dilupakan, termasuk sejarah Hamengku Buwono Pertama. Tak lain, hal ini diharapkan agar dapat lebih meneguhkan keistimewaan Yogyakarta dalam menjadi benteng budaya di tanah Jawa. [uth]

Pic-Source: Doc Kraton Jogja

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Utroq Trieha


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *