Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Semua Bermula dari Kata #1 -Pameran Karya Visual Abnormal Baru Dwi Putro X Nawa Tunggal DPNT

Pameran Abnormal Baru Merupakan Janji Masa Kecil Nawa Tunggal dalam Merawat Kegilaan ‘Disabilitas Mental’ yang Disandang Dwi Putra Mulyono Jati


Diunggah oleh Official Adm pada tanggal 11 Oktober 2021   (278 Readers)

Langkah mendapatkan definisi dari seni rupa kontemporer salah satunya dapat dilakukan dengan melihat dasar budaya pada masyarakat seetmpat, di anatranya mengenai pemaknaan oleh masyarakat perihal kehidupan mereka melalui pandangan, pola pikir, dan perilaku. Hal ini dilakukan karena disadari ataupun tidak kenyataannya setiap budaya memiliki pandangan berbeda mengenai hal yang dianggap “normal” atau “diterima” menurut mereka. Relativitas seperti inilah yang membuka cakrawala seni rupa kontemporer terhadap pembaharuan dalam bentuk serta pemaknaan akan karya seni. Sesuatu yang abnormal dalam suatu budaya dapat saja menjadi normal jika dimaknai dalam budaya lain.

Abnormal Baru menjadi judu pameran seni visual karya Dwi Putro x Nawa Tunggal (DPNT) yang juga menjadi salah satu pameran berkaitan dengan pemaknaan masyarakat perihal kehidupan. Pameran ini diselenggarakan selama 10 hari, yaitu pada tanggal 12 – 22 Oktober 2021, dengan tempat berlokasi di Jogja Gallery.

Pameran seni rupa Abnormal Baru memuat cerita tentang kegilaan sebagai satu bentuk penggerak karya seni kontemporer yang mendahulukan kebaruan dan penciptaan hal baru dalam dunia seni. Abnormalitas baru merupakan sebuah topik yang cukup dekat bagi semua orang, apalagi ketika harus melihat situasi pandemi COVID-19 yang justru telah merombak tatanan serta rutinitas kehidupan kita dan sekaligus telah memaksa orang-orang untuk mengenal, berdamai, dan hidup berdampingan dengan abnormalitas-abnormalitas baru yang semakin menjadi normal.

Abnormal Baru yang terpagut menjadi judul serta konsep pameran karya DPNT ini adalah salah satu cara guna meninjau kegilaan yang memiliki stigma abnormal sebagai sebuah nafas baru dalam ranah seni rupa kontemporer.

Dapat diketahui bahwa sebagai sebuah gerakan yang mengutamakan pembaharuan, seni kontemporer pada dasarnya berkaitan erat dengan abnormalitas yang tersemat dalam penciptaan hal-hal yang sepenuhnya baru. Karena itu, keterkaitan kegilaan dengan penciptaan karya seni rupa kontemporer oleh seniman Dwi Putro terkesan pada tempatnya dan natural, sebuah rumah bagi abnormalitas yang dilahirkannya. Absurditas yang dicerminkan oleh karya-karyanya seakan menjadi jendela ke dalam dunia lain, lensa baru yang mengajak kita untuk mengenali dan berempati pada perspektif yang lain.

Meski pandemi masih belum benar-benar sirna dari hadapan kita, pameran Abnormal Baru kali ini presentasinya sudah dilaksanakan secara luring, yaitu berlokasi di arae Jogja Gallery, dengan alamat di Jl. Pekapalan No. 7, Alun-Alun Utara, Yogyakarta. Pameran ini menghadirkan 50 kanvas berbagai ukuran yang akan dikerjakan selama 10 hari.

Jalan Setapak Tak Berakhir - Abnormal Baru Merupakan Janji Masa Kecil Nawa Tunggal Merawat Disabilitas Mental Dwi Putro

Profil Dwi Putro, Seniman Pameran Abnormal Baru

Dwi Putro akrab pula dengan sapaan “Pak Wi”, ialah pria yang memiliki nama lengkap Dwi Putra Mulyono Jati, dan terlahir di Yogyakarta pada 10 oktober 1963. Tak sebagaimana lazimny, Pak Wi terlahir dalam kondisi prematur sekitar tujuh bulan, dan selama dua bulan kelahirannya juga dirawat intensif di kotak inkubasi.

Pak Wi kecil pun tumbuh sebagaimana anak-anak biasanya, yaitu periang saat bermain bersama, dan juga gembira saat bersekolah. Ia gemar sekali bersepeda. Hingga suatu ketika, yaitu saat menginjak kelas 3 Sekolah Dasar, muncul gangguan pendengaran, yang kemudian membuat Pak Wi lebih suka menyendiri. Proses belajarnya pun terganggu, ia tidak naik kelas dan mengulang. Ternyata di tahun berikutnya kejadian serupa terulang, ia tidak naik kelas lagi.

Dengan beberapa kali mengalami kegagalan tersebut, pihak sekolah memberi saran agar Pak Wi berpindah sekolah yaitu ke Sekolah Luar Biasa (SLB) yang dikhususkan bagi anak-anak tunarungu. Merasakan kenyataan dan mendengar saran tersebut Pak Wi seolah tak terima, ia ngambek, hingga ia tak mau melanjutkan sekolah. Bahkan lebih dari itu, ia juga cemburu terhadap adiknya yang bernama Tri Atmojo Putro, karena sang adik tetap diperbolehkan sekolah di tempat itu dan naik kelas. Pak Wi pada akhirnya terpaksa tidak mau bersekolah, ia malah meminta ayahnya yang bernama Sri Mulyono agar dibelikan sepeda baru.

Dengan latar-belakang kesukaannya dalam bersepeda, sang ayah juga sempat mengantar Pak Wi ke suatu perlombaan balap sepeda “grass track” khusus anak-anak di lapangan Bibis, Bantul. Pak Wi sempat menjadi pemenang ketika itu. Kemudian seiirng berjalannya waktu, masa setahun pun berlalu, Pak Wi berhasil dibujuk untuk menempuh studi di SLB Negeri 1 Bantul, yang berlokasi di Jalan Wates, Kadipiro, Yogyakarta. Di sekolah barunya ini Pak Wi giat bersekolah, ia juga pernah ikut kontingen pramuka mewakili sekolah itu untuk Jambore Pramuka di Cibubur, Jakarta.

Di luar sekolah, Pak Wi termasuk anak rajin. Ia diserahi tanggung jawab menimba air di sumur untuk mengisi bak mandi yang cukup besar setiap sore. Setelah itu, Pak Wi gemar menonton pergelaran padat wayang kulit di Agastya di Gedongkiwo, tak jauh dari tempat tinggalnya di Dukuh, Kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta.

Trilogi Kenyamanan - Pameran Karya Visual Abnormal Baru Dwi Putro X Nawa Tunggal DPNT

Pak Wi Jatuh hati

Seperti anak remaja lain pada umumnya, Pak Wi pernah jatuh hati kepada gadis beda kelas di masa studinya di SLB. Panggilan gadis itu Teteh, karena memang ia berasla dari Bandung. Pak Wi sering membolos dan mengintip Teteh di kelasnya, hal ini tentu sangat mengganggu proses belajar dan mengajarnya di sekolah itu.

Mungkin karena mengganggu, apalagi seharusnya sudah lulus studi di tingkat dasar, sekitar tahun 1983 Pak Wi dinyatakan lulus dan tidak boleh bersekolah lagi. Di sinilah lahir manifestasi gangguan mentalnya. Pak wi sering uring-uringan. Sasaran kemarahannya, biasanya adiknya persis, yaitu yang nomor tiga dan memiliki nama Tri Atmojo Putro.

Pak Wi terlahir dari keluarga besar, sebagai anak kedua dari 10 bersaudara, semantara Nawa Tunggal yang membersamai pamerannya kali ini adalah anak nomor sembilan.

Suatu ketika, diperikarakan pada tahun 1983 itulah, Nawa menjumpai kemarahan Pak Wi semalaman, yaitu berteriak-teriak keras sepanjang malam. Kata-kata yang diingatnya; “Wani, piye?” atau “Berani, ya?”. Ialah kata-kata dan/atau kalimat sebagai satu tantangan ataupun ancaman Pak Wi yang ditujukan terhadap adiknya, Tri Atmojo Putro. Ketika itu, dalam ketakutannya, Tri juga harus diamankan dan dikunci di sebuah kamar. Sementara Pak Wi di luar pintu terus meneriakkan kata-kata itu dari petang hingga pagi. Bayangkan, ini seperti kiamat kecil di rumah.

Di keesokan paginya, Nawa yang lahir pada tanggal 28 Juni 1974 itu terbangun dan hendak berangkat ke sekolah. Nawa masih menjumpai kelakuan Pak Wi yang sama, berteriak-teriak dengan kata yang sama. Nawa tercenung, lalu berangkat ke sekolah.

Sepulang sekolah, Nawa makan siang sendiri di meja makan keluarga yang cukup besar. Maklum, keluarga besar maka meja makan bersama harus besar juga. Ketika nasi tinggal sesuap di piring, Nawa berjalan ke arah pintu keluar rumah untuk melihat keramaian anak-anak seusianya yang sedang bermain di halaman. Tiba-tiba di pintu berdiri menghadang Pak Wi. Pak Wi mengacungkan jari kelingkingnya sebagai tanda tidak baik kepada Nawa yang makan sambil berjalan. Sontak Nawa kaget dan tercenung kembali. Ia membayangkan, semalaman hingga pagi Pak Wi berteriak-teriak seperti orang gila. Ternyata siang itu Pak Wi bisa menjadi seorang kakak yang normal.

Garis Kehidupan #1- Pameran Karya Visual Abnormal Baru Dwi Putro X Nawa Tunggal DPNT

DPNT Sebagai Pemenuhan Janji Nawa Tunggal Saat Masa Kecil

Nawa berpikir, semalaman Pak Wi sedang sakit dan semestinya harus dibantu. Nawa bertekad, kelak ketika dewasa ingin membantu Pak Wi. Ini janji masa kecil Nawa. Tanpa disadari hal ini menggiring Nawa semasa bekerja sejak sekitar tahun 2000 untuk mendampingi Pak Wi melukis. Sepeninggal ayah pada tahun 1996, dan juga sepeninggal ibu pada tahun 1997, Pak Wi menjadi kurang mendapatkan perhatian. Bahkan, pada tahun 2001 Nawa pernah menjumpai Pak Wi di jalanan membawa banyak puntung rokok di kantung celananya. Nawa terusik batinnya.

Waktu terus berlalu, Nawa tinggal di Malang dan kemudian pada tahun 2004 berpindah tugas ke Jakarta. Di setiap kesempatan yang ada Nawa terus berusaha mendampingi Pak Wi untuk melukis. Selama itu Nawa pun dalam situasi batin yang tidak menentu, tidak pernah bercerita tentang situasi dan kondisi Pak Wi kepada siapa pun.

Hingga pada tahun 2007 silam Nawa mendapat motivasi dari seorang seniman bernama Samuel Indratma, ialah sosok seniman yang kini tengah menggarap proyek lagu puisi karya Dr. Kuntara Wiryamartana, SJ di “Jalan Mulia Art Project” dalam ‘Sraddha‘ ini menyarankan untuk menghadirkan karya-karya Pak Wi di ruang publik di Yogyakarta.

Selanjutnya berbagai kegiatan dan pameran dijalani, yang pada akhirnya pameran-pameran itu bukan saja diikuti di Yogyakarta, akan tetapi juga di Jakarta, Bali, Bandung, dan Jepang. Di Jepang, pameran karya Pak Wi ini yang diselenggarakan di Omihachiman – Prefektur Shiga ini juga difasilitasi Borderless Art No-Ma Museum – Jepang. Ada tiga kali pameran setiap tahun berturut-turut antara 2018 – 2020, karean itu No-Ma memberi pengalaman berharga bagi Nawa.

Di tahun 2019, Nawa memelopori kegiatan Outsider Artpreneur di Ciputra Artpreneur, Jakarta. Pak Wi diajak ke Jakarta dan sempat diajak Nawa melukis dengan teknik cipratan cat di kanvas luas yang ditaruh di tanah. Setelah kanvas selesai, Pak Wi lalu menulisinya di rumah. Penggalan peristiwa ini sempat direkam video dan inilah cikal bakal lahirnya film Teaterikal Lukisan “Ruwat” di masa pandemi Covid 19 tahun 2020.

Film ini melatarbelakangi lahirnya konsep kerja kolaborasi antara Dwi Putro (DP) dan Nawa Tunggal (NT). Kemudian lahirlah DPNT sebagai konsep kerja kolaborasi antara Pak Wi dan Nawa. Lahir kemudian pameran DPNT yang diberi tajuk, Abnormal Baru, di Jogja Gallery, Yogyakarta, 12 – 22 Oktober 2021. DPNT Abnormal baru mengusung konseptualisasi kegilaan dan peradaban yang dituangkan Michel Foucault di dalam bukunya yang berjudul, Kegilaan dan Peradaban (Madness and Civilization).

Hal terakhir, menyangkut perasaan Nawa tentang karya DPNT adalah ketidak-mudahannya dalam menyatakan ungkapan perasaan terkait literasi yang diangkat melalui pameran DPNT Abnormal Baru. Ada keprihatinan mendalam tentang penanganan orang-orang yang dianggap abnormal ternyata masih jauh dari harapan. Institusi negara yang berkepentingan juga tidak jelas dalam menyediakan akses-akses layanan bagi publik, terutama penyandang disabilitas mental.

Nawa berjibaku merawat kegilaan Pak Wi tanpa campur tangan negara. Pada akhirnya, hal yang dirasakan Nawa untuk merawat kegilaan itu sendiri sebagai upaya menjaga kewarasan, banyak keriangan tersembunyi di situ. Demikian perjalanan hingga sekarang DPNT terwujud. DPNT tidak lain sebagai upaya memenuhi janji masa kecil Nawa.

Semangat.... Semangat Terus Berkarya -Abnormal Baru Merupakan Janji Masa Kecil Nawa Tunggal Merawat Disabilitas Mental Dwi Putro

Pembukaan Pameran DPNT

“Pak Wi” sebagai panggilan akrab dari seniman yang bernama lengkap Dwi Putra Mulyono Jati ini selama melangsungkan pamerannya akan bekerja sendirian, karena Nawa Tunggal yang merupakan saudara kandungnya akan kembali ke Jakarta. Sementara saat pembukaan pameran Pak Wi bakal berkolaborasi dengan pelukis Nasirun, ialah kolaborasi yang juga pernah ia lakukan pada tahun 2013 di Jakarta. Selain kolaborasi dengan Nasirun, pada pembukaan pameran Abnormal Baru kali ini juga turut hadir penyair Joko Pinurbo yang merespon text karya tulis Pak Wi menjadi puisi.

Sementara itu sebagai pertanda pada pembukaan pameran akan dilakukan dengan cara pelepasan burung dari sangkarnya sebagai simbol melepas segala kerinduan akan kebebasan. Melepas cerita, menyambut suka cita.

Dalam pameran yang diselenggarakan secara luring di Jogja Gallery, yang letaknya di sudut timur laut Alun-Alun Utara, Yogyakarta tersebut dibuka untuk umum, hanya saja karena masih harus mematuhi aturan protokol kesehatan, maka bagi Anda yang hendak berkunjung diwajibkan untuk melakukan reservasi di tautan-laman bit.ly/ReservasiDPNT. Sekali lagi, sebelum berkunjung pastikan sudah menerapkan prokes COVID-19.

Mengenai informasi dan keterangan lebih terkait pameran seni rupa ini sila bisa menghubungi Contact Person pameran Abnormal Baru_ DPNT di nomor 0896-7216-0069 atas nama Oktala. []

4.8/5 - (6 votes)

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Official Adm


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *