Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
25th Yogyakarta Gamelan Festival 2020 Digelar Secara Online

25th Yogyakarta Gamelan Festival yang Digelar Secara Online di www.ygflive.com Menjadi Bukti bahwa Gamelan Mampu Berkelindan dengan Zaman


Diunggah oleh Utroq Trieha pada tanggal 9 November 2020   (442 Readers)

2020 menjadi tahun ke-25 dalam penyelenggaraan Yogyakarta Gamelan Festival, di mana sebagai usia seperempat abad, sejatinya sejak satu tahun sebelumnya, tepatnya pada acara penutupan YGF ke-24 silam, Ishari Sahida a.k.a Ari Wulu -mewakili pihak penyelenggara- mengungkapkan bahwa helatan ke-25 kali ini digadang bakal diselenggarakan dengan konsep berbeda yang tentunya lebih meriah.

25th Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) di tahun 2020 kali ini sepertinya memang sesuai dengan apa yang diungkapkan Ari Wulu saat penutupan YGF24 di Plaza Ngasem tahun 2019 silam, yaitu konsepnya sangat berbeda. Hanya saja perihal kemeriahan, kita masih belum tahu. Pasalnya ‘perbedaan’ itu bukan sebagaimana yang digadang-gadang. Lain dari itu, perbedaan ini timbul tak lain adalah akibat dari perubahan sebagai bentuk penyikapan terhadap merebaknya pandemi corona.

Konsep berbeda dari helatan 25th Yogyakarta Gamelan Festival ataupun YGF ke-15 yang agendanya dijadwalkan berlangsung pada tangal 18 hingga 22 November 2020 kali ini antara lain adalah gelaran yang harus disajikan secara daring alias online. Sehingga bisa dikatakan bahwa 25th YGF yang digelar Komunitas Gayam16 dan didukung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tetap bisa disaksikan, hanya saja dalam menikmati dan menyaksikannya adalah secara virtual, yaitu melalui laman maya www.ygflive.com

Gamelan Menjadi Sikap Hidup yang Fleksibel

Menapaki usianya yang ke-25, sebagai sebuah festival bisa dikatakan ia bukanlah usia muda dan sah ketika harus dipandang sebelah mata. Pasalnya tak banyak festival yang bisa bertahan dan rutin berjalan setiap tahun tanpa terhenti lebih dari 10 kali.

Ari Wulu selaku Project Director YGF memaparkan bahwa usia 25 tahun bukan sekadar romantisme, melainkan introspeksi terhadap hal-hal yang sudah dilakukan selama ini untuk mengevaluasi apa yang sudah dilakukan oleh YGF dan apa pula manfaatnya. Selain itu, ini adalah momentum tepat ketika harus dijadikan pemikiran perihal apa yang akan dilakukan YGF setelah 25 tahun.

Baca juga:  Rangkaian Program Acara 'Festival Alumni Kelola' Hadirkan Seri Wayang Bocor di Kemang Jakarta

Di lain sisi, kondisi pandemi Covid-19 menjadi tantangan bagi YGF. Memasuki tahun penyelenggaraan yang ke-25, perhelatan pada 2020 ini juga bukan sekadar perayaan melainkan kontemplasi yang akhirnya memotivasi. Masih sesuai pemaparan Ari Wulu, gamelan menjadi kesatuan dan tidak modular. Artinya, saat memainkan gamelan harus bersama-sama atau berbareng.

“Ini jadi paradoks di tengah pandemi, lantas apakah tidak bisa menghadirkan gamelan,” ujar Ari Wulu dalam jumpa pers 25th YGF di pendopo Komunitas Gayam16, pada hari Senin, 9 November 2020.

Menurut Ari Wulu, YGF sebagai tempat berkumpul pada pecinta gamelan bisa mewujudkan hal ini melalui pemanfaatan teknologi. 25th Yogyakarta Gamelan Festival pun membuktikan diri bisa berkelindan dengan zaman. Bahwa menyaksikan 25th YGF dengan cara yang berbeda ini juga semakin membuat orang kian fleksibel bersentuhan dengan gamelan, apalagi ketika diisiarkan secara langsung via daring, maka itu justru sangat memungkinkan membuat 25th Yogyakarta Gamelan Festival kali ini bisa ditonton oleh siapaun dan di manapun berada.

Ari Wulu menuturkan gamelan adalah sikap hidup yang dapat diterapkan dalam situasi apapun. Menjaga jarak dalam situasi terkini, tidak menjadi halangan bagi gamelan.

“Karena di dalam gamelan, masing-masing bunyi memberikan ruang bagi lainnya yang artinya memberi jarak,
supaya satu dengan lainnya tidak saling bertabrakan,” ucapnya.

Pemotongan Tumpeng 25th Yogyakarta Gamelan Festival

Program 25th YGF 2020

Ada empat program yang dihadirkan dalam 25th YGF meliputi, pergelaran gamelan yang menghadirkan konser gamelan lintas genre dari pecinta, pemain, dan penikmat gamelan di seluruh dunia yang bisa disaksikan selama penyelenggaraan mulai pukul 19.30 sampai 22.00 WIB. Empat program itu adalah rembug budaya, lokakarya budaya, dan pergelaran tari.

Sementara itu untuk konser gamelan akan diikuti belasan penampil yang berasal dari Yogyakarta, luar Yogyakarta, dan luar negeri. Para penampil itu adalah sebagai berikut:

  • Gamelan Keller (Prancis)
  • Gamelan Kancil Arles (Prancis)
  • Gamelan Larasati (Prancis)
  • Padhang Moncar Gamelan Group (New Zealand)
  • Hai Definition x Gamelan Asmaradana (Singapura)
  • Sanggar Seni Jhung Rojhung (Pamekasan)
  • Rasamaya (Surakarta)
  • Sanggar Tarara (Bangkalan)
  • Sanggar Tari Guntur (Kota Kediri)
  • Omah Cangkem (Yogyakarta)
  • Canda Nada (Yogyakarta)
  • Omah Gamelan (Yogyakarta).
Baca juga:  Pesta Rakyat Kampung Terban Yogyakarta Menampilkan Potensi Seni-Budaya dari Warga

Terkait dengan program acara di YGF ke-25 tahun 2020 kali ini, semua program akan dijalankan secara daring, sehingga masing-masing penampil dari luar Yogyakarta akan mengirimkan karya atau penampilannya dalam bentuk video yang dibuat di rumah, pendopo, atau studio masing- masing. Kemudian video itu akan disiarkan secara live dari studio broadcast yang sudah dipersiapkan dengan host untuk memandu acara ini.

Sedangkan untuk penampil yang berasal dari Yogyakarta akan tampil di pendopo Komunitas Gayam16 lalu disiarkan secara langsung. Untuk Rembug Budaya dan Lokakarya Budaya akan dijalankan secara daring juga. Program ini akan disiarkan live dari studio broadcast, kemudian disiarkan melalui website Yogyakarta Gamelan Festival.

Tentang Angka Tujuh

Program 25th Yogyakarta Gamelan Festival 2020Masih dalam acara jumpa media di area Gayam16, sebelum dilakukan pemotongan tumpeng selain ada Ari Wulu dihadirkan pula Bapak Maryono sebagai salah satu nara-sumber yang juga merupakan pegiat gamaelan sejak lama. Beliau menuturkan beberapa hal mengenai perjalanan YGF ini, yaitu sejak awal ia masih merupakan salah satu program FKY, dan juga berlanjut berdiri sendiri sebagai sebuah festival yang dipegang langsung oleh Sapto Rahardjo, yang tak lain adalah ayah dari Ari Wulu.

Bapak Maryono menuturkan bahwa pada mulanya, bisa dikatakan sebuah langkah yang nekad dilakukan sosok Sapto Raharjo dalam menyelenggarakan Yogyakarta Gamelan Festival ini. Apalagi saat itu beliau justru dominan menghadirkan musik gamelan yang asing dan terdengar aneh. Namun seiring berjalannya waktu, justru itulah yang kemudian juga dikatakan sebagai gamelan kontemporer.

Baca juga:  Dapatkan Tiket Terusan Menonton "Motel Acacia" Sebagai Film Penutup JAFF -14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival

Lain dari itu, masih menurut penuturan Bapak Maryono dalam candaannya, bisa dikatakan sosok Sapto Rahardjo itu satu level dengan sultan ataupun gubernur. Pasalnya, beliau tetap bisa merangkul dan menggandeng banyak orang, baik dalam menyajikan pun menikmati gamelan di YGF tersebut.

Di sisi lain Bapak Maryono juga membenarkan mengenai apa yang dikatakan Ari Wulu, bahwa beberapa penyelenggaraan YGF yang jika dijumlahkan totalnya adalah berupa angka tujuh, maka beberapa kali pula ada hal-hal yang tak lazim harus dilalui. Di antaranya adalah YGF 7 yang saat itu berbarengan dengan pemilu, YGF 16 yang bertepatan dengan tahun terjadinya bencana gempa Jogja, dan kali ini adalah YGF 25 yang harus menghadapi kendala pandemi covid19.

Saking terpolanya dengan angka tujuh, maka Sapto raharjo juga menamakan sebuah grup band yang digawangi Adam, Duta, Eros, dan kawan-kawannya dengan ‘Sheila on Seven’. Ya, Sapto Raharjo adalah sosok yang menamai grup band yang pernah tersohor itu.

Selanjutnya ikhwal pemotongan tumpeng, selain menjadi seremonial dan juga pemanjatan doa agar diberi kelancaran dalam penyelenggaraan 25th Yogyakarta Gamelan Festival, dipersembahkan pula doa untuk almarhum Ki Seno Nugroho yang belum genap seminggu silam telah berpulang menuju Sang Pencipta. Tentu ini menjadi sebuah bentuk kehilangan bagi Jogjakarta, di mana selain sebagai dhalang, Ki Seno Nugroho yang memang lulusan SMKI Bugisan itu adalah juga sosok pelaku serta pegiat seni.

Pemotongan tumpeng secara simbolik dilakukan oleh Ari Wulu, dan kemudian diserahkan kepada salah satu tim broadcasting. Hal ini juga menjadi simbol selamat datang bagi keluarga baru di Komunitas Gayam16, yaitu dengan hadirnya tim broadcasting yang ke depannya akan menjadi bagian support terhadap segala kegiatan di Gayam16. [uth]

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Utroq Trieha


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *