Pawarta Adhicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.

Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, selengkapnya sila simak laman “Syarat & Ketentuan“.

 

5.0
04
HIGHLIGHT
   
Menafsir Mesemeleh

Program Teater FKY 30: Menafsir Mesemeleh

Diunggah oleh Jaring Acara, pada tanggal 3 Agustus 2018

Menafsir Mesemeleh | Setelah berbagai rangkaian program seni dan budaya yang digelar sejak hari pertama pelaksanaan FKY 30 pada 23 Juli 2018 lalu, kini giliran Program Teater FKY 30 mulai dilaksanakan. FKY 30 sendiri sejak tanggal 23 Juli – 2 Agustus 2018 telah dikunjungi lebih dari 80.000 orang.

Menafsir MesemelehTahun ini, program Teater FKY 30 menampilkan 2 kelompok teater di Yogyakarta, yaitu Teater Sakatoya dan Forum Aktor Yogyakarta. Sebagai pembuka, pada 3 Agustus 2018 jam 20.00 WIB Teater Sakatoya mementaskan naskah berjudul ‘The Happy Family’ sebuah karya baru yang ditulis tahun 2018 dan disutradarai B.M. Anggana.

Dengan mengambil tempat di Area Pasar Seni komplek Planet Pyramid, naskah ini menceritakan kehidupan pasangan Papa dan Mama yang tetap bisa mesem sambil berkeliling menjajakan Krim Sup Mimpi di tengah-tengah keramaian festival. Panggung pementasan ini cenderung bergerak-berpindah di seputar lokasi Pasar Seni FKY 30.

“Pentas teater yang disiapkan selama satu bulan ini berkisah tentang kehidupan pasangan Papa dan Mama yang berkeliling menjajakan Sup Krim Mimpi di tengah-tengah keramaian festival. Sup Krim Mimpi mereka begitu lezat karena dibumbui oleh sebuah resep ‘rahasia’, yakni sesuatu yang pernah dimiliki semua orang yang tanpa disadari mungkin telah mereka kuburkan,” ungkap B M Anggana.

Di waktu yang bersamaan, lanjutnya, keturunan mereka bernama Anak, hilir mudik di ruang festival mencari definisi konsep keluarga ideal melalui orang-orang yang ditemuinya. Papa dan Mama mengumumkan bahwa mereka akan menggelar Open Kitchen tentang cara dan resep memasak sup krim mereka secara live sehingga bisa viral dan eksis di masyarakat luas. Terpikat eksistensi dunia maya, kepulangan Anak pun disambut tanpa adanya komunikasi. Proses viral berjalan dan Mama berhasil menghimpun banyak komentar. Akhirnya, resep rahasia yang paling akhir harus ditampilkan ke publik. Resep rahasia itu rupanya terdapat pada si Anak. Pada titik inilah Anak memulai pemberontakannya, menghimpun argumen massa demi mengalahkan Papa dan Mama.

“Teater yang dihadirkan Komunitas Sakatoya ini merupakan upaya untuk menafsir tema ‘Mesemeleh’ ke dalam sebuah pertunjukan Teater Partisipatoris. Pertunjukan berusaha menyatu ke dalam suasana kemeriahan festival dan membuka ruang interaksi sepenuhnya dengan seluruh pengunjung yang ada. Menyampaikan suatu pesan tentang disfungsi komunikasi keluarga karena efek eksistensi di dunia maya,” jelasnya.

Di dunia maya, lanjut BM Anggana, bisa dikatakan orang-orang berlomba untuk memunculkan sisi bahagia dari dirinya. Namun, kenyataannya tidak sehembring di sosial media. Lantaran sosial media yang sebagai alat komunikasi pada akhirnya menghilangkan komunikasi langsung dalam keluarga. Orangtua sibuk dengan bisnisnya, sang anak mengeluh di sosial media. Akhinya, itu jadi masalah baru.

Menafsir MesemelehSementara itu Forum Aktor Yogyakarta akan mementaskan naskah dengan judul ‘Nishkala’ yang memberikan kemerdekaan (semeleh) kepada para pemirsa perihal menyikapi perbedaan dan keberagaman. Pementasan ini akan dilaksanakan pada 6 Agustus 2018 jam 20.00 WIB bertempat di Pendopo Tembi Rumah Budaya Yogyakarta. Judul naskah yang dipentaskan kelompok teater tersebut juga tidak lepas dari tema besar FKY 30 tahun ini, yaitu ‘Mesemeleh’ yang merupakan gabungan dari kata Mesem danSemeleh.

Kurator Divisi Teater FKY 30, Ibed Surgana Yuga menambahkan, pementasan Sakatoya lebih pada mencoba merespon keramaian, yang diwujudkan dengan mobile. Berbeda dengan Forum Aktor Yogyakarta yang memilih panggung ‘diam’ dengan pilihan narasi yang saling berhimpitan atau bertabrakan satu sama lain. Merespon keramaian dalam bentuk ‘catwalk’. Dalam artian, akan ada lima naskah berbeda yang dihadirkan dalam catwalk nanti.

“Melalui program Teater FKY 30, ingin melihat peta teater Yogyakarta. Apakah masih terpisah utara dan selatan? Dan mempertanyakan, apakah peta tersebut masih relevan, atau itu hanya batas imaginer yang dibuat,” papar Ibed.

5.0
04

Artikel pun Pawarta di atas diunggah dan dipublikasikan oleh 'Jaring Acara'. Isi ada di luar tanggung jawab redaksi, karenanya untuk informasi, sanggahan, saran, dan lain-lain, mohon kontak langsung pengunggah (Jaring Acara).

Ingin mengunggah serta mewartakan kegiatan dan acaramu di Situs Warta Agenda Acara | Pawarta Adicara Jaringacara juga?
Sila Klik Registrasi dan atau Login. Simak juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *